Search This Blog

Powered By Blogger

Wednesday, January 30, 2013

My email to Yusuf Estes

Below is an email that I sent to Yusuf Estes. He replied so quickly. I was very suprised to receive his reply so early. A busyman like him would have so many other things to do, but despite all of that, he still had the time to entertain my question. May Allah always bless him and his dakwah.
Here's the email which I copy paste from my email and below it is the screen shot of my email.
I hope it will benefit everyone who reads it...I did some editing in the text because of my typing error and a grammar mistake. The errors are

at the subject, i spelled Chritianity and I corrected it to Christianity.

and at the third line, I wrote believe in, then, I corrected it to believing in.







From: Khairus Ambia Putra Bin Khairuddin <olinuskap@gmail.com>
To: "yusuf@shareislam.com" <yusuf@shareislam.com>
Sent: Tuesday, January 29, 2013 12:17 AM
Subject: Why do some Muslims convert to Christianity?

Assalamu 'alaikum Uncle Yusuf. Wish u all the best in your dakwah..


I have a question about Muslims converting to Christianity. I still don't get it. How did they fall in the trap? How did they change from worshipping 1 God to believing in trinity. How did that happen?

What made them change and what are the flaws that they see in Islam?

The Muslim converts are increasing, thanks to people like you with your powerful dakwah, but in the same time, there are people converting from Islam to Christian. What actually attracks them to Christian?

How did they get convinced?

If we know about this, we can stop this from happening. We can stop muslims to convert to Christianity...

I'm from Malaysia, by the way.

Take care and all the best in your dakwah. may Allah grant you a long life and a happy life...

Assalamu 'alaikum...

Khairus Ambia Putra Bin Khairuddin







Bismillah Rahman Raheem
Salam alaykum,
Thanks for writing. There are a number of reasons in this life for doing what people do. Whether it might be something very brilliant or something very stupid, we all say we have reasons for what we do or what we don't do. Actually, in many cases, these are not really 'reasons' as much as they are 'excuses' for what we get into.
Let us take only one example of millions, inshallah. A man and wife are driving around at night. The man assures his wife he knows wherehe is and where he is going, ever though he has never been there before and does not have a map.After a while of driving around the same area, the wife tells her husband to ask someone for directions. He tells her he knows where he is and does not need someone to help. Another 10 minutes or so goes by and she mentions again that he should pull over and ask someone for help. Again, he claims he is right on course and does not need anyone to guide him. This continues until they find themselves right back where they started, and even then the man wants to find excuses for why he does not need to ask for help. The fact is, he did not want to admit he was wrong.
This is only one of many stories of humans who can hear or see the truth right in front of them and yet, they want to deny the clear proof even though it would be better for them to admit it and fix the problem.
Allah talks directly to that problem in humans in surah Ar-Rahman, when He speaks clearly to all of the humans and jinn about their denial of the clear favors Allah has bestowed upon us all:




So which of the favors of your Lord would you deny?

The answer is - "People just don't want to be guided. They want to do things their own way -EVEN IF IT IS CLEAR THEY ARE WRONG"

We just got back from AROUND THE WORLD IN 80 DAYS For IslamMany Became Muslims Using This Dawah (that really works)
Try This:
1. Use my new videos www.WhatsIslam.com 
2. ANSWERS ATTACKS ON ISLAM (video)www.TubeIslam.com/video/11623
3. BEST ANSWERS onwww.SheikGoogle.com

Want to Join Me for 
Dawah in America?
We're Giving Free Qurans & Books, CD & Our own Satellite TV for Islam!
Support now
: 
www.DonateForIslam.com
Salam alaykum,
Yusuf Estes













Sunday, July 8, 2012

Mengapa Diletakkan Yasin Di Bantal Bayi?




Disusun oleh : Khairus Ambia Putra
Disemak oleh : Hafiz Firdaus Abdullah



Kerosakan aqidah sering berleluasa dalam masyarakat Melayu, khususnya. Ia hadir sama ada disedari atau tidak. Antara salah satu yang saya nak ketengahkan ialah penggunaan tangkal. Apabila disebut tangkal, mungkin ramai yang akan menyangka tangkal itu hanya berupa gelang ataupun rantai tapi terlupa atau tidak sedar bahawa tangkal juga boleh berupa bentuk lain.

Kali ini, saya ingin ketengahkan isu tangkal menggunakan tulisan ayat Quran. Ia semakin berleluasa terutama kepada keluarga yang baru menimang cahaya mata. Antara yang saya sering perasan, ibu bapa bayi tersebut akan meletakkan buku surah Yasin di bantal bayi. Sebabnya, saya masih tak tahu. Jika nak dikatakan untuk bayi itu baca, seorang bayi tidak boleh membaca. Jika untuk ibu bapa yang baca, kenapa perlu disimpan surah Yasin itu di bantal bayi. Mengapa tidak di rak buku atau almari? 

Saya cuba bersangka baik tetapi gagal, dan kesimpulan yang boleh saya buat, surah Yasin itu diletakkan di bantal bagi menjadi pelindung kepada bayi tersebut. Persoalannya, adakah itu yang diajar oleh Rasulullah Sollallahu 'Alaihi Wassalam? Bukankah apa yang diajar oleh Rasulullah, membaca Quran untuk menjadi pelindung? Bacaan lah yang diajar oleh Nabi, bukannya meletakkan ayat Quran. Meletakkan ayat Quran seperti surah Yasin di bantal, mencemar aqidah. Sesiapa yang meletakkannya, secara tak sedar, telah menjadikan buku surah Yasin itu sebagai tangkal dan menganggap bahawa ia mempunyai kuasa untuk melindungi. Tanpa disedari juga, mereka berserah dan bergantung kepada buku surah Yasin itu dan bukan lagi kepada Allah. Ya, benar gangguan makhluk halus itu wujud, dan saya tak menafikannya. Tetapi adakah itu cara yang diajar oleh Nabi untuk dijadikan pelindung? 

Dalam kes lain, ada yang suka menggantung ayat Quran seperti ayat Kursi dan surah Yasin di rumah, dengan beriktikad bahawa dengan menggantung ayat-ayat itu, menjadi pelindung kepada ahli rumah dan juga rumah itu. Ada juga yang menggantung ayat seribu dinar di kedai untuk melariskan perniagaan mereka. Itu merupakan satu kesalahan di mana ayat-ayat yang digantung itu menjadi tangkal. Ini merupakan perkara yang mensyirikkan Allah. Jika anda berkeyakinan bahawa menggantung itu sebagai pelindung, maka itu termasuk dalam kategori syirik. Ayat Quran itu untuk dibaca dan dengan bacaan itulah dapat menghalau syaitan, dengan izin Allah.

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda, maksudnya:

"Janganlah engkau semua menjadikan rumah-rumahmu itu  sebagai kuburan - yakni tidak pernah bersembahyang sunnah atau  membaca al-Quran di dalamnya, sehingga sunyi-sunyi saja dari ibadat. Sesungguhnya syaitan itu lari dari rumah yang di dalamnya itu dibacakan surat al-Baqarah.”
(Riwayat Muslim) 
[Hadis no.1015, Imam Nawawi Riyadhus Shalihin, Jilid 2, mukasurat 174]


Selain itu, terdapat juga ustaz-ustaz yang menjampi sesuatu tangkal, dan menulis ayat Quran di atas kertas lalu dilipat dan diikat bersama-sama kain di keliling pinggang. Ini satu lagi amalan yang entah dari mana asalnya.

Memang betul, terdapat khilaf antara ulama tentang hukum penggunaan tangkal yang diperbuat daripada ayat Quran, tetapi pendapat yang lebih kuat ialah HARAM memakainya sekalipun tangkal itu dijampi dan ditulis dengan ayat Quran. 

Menurut Dr Yusuf Qardhawy, 

"Pendapat yang kami pilih adalah melarang segala bentuk tamimah, meskipun terdiri dari ayat-ayat Al-Quran, kerana adanya beberapa dalil:

1. Dalil yang melarang bersifat umum, dan hadith-hadith yang membicarakannya tidak memberikan pengecualian.

2. Saddudz-Dzari'ah, sebab dibolehkannya tamimah dari ayat Al-Quran akan membuka jalan bagi pengalungan tamimah dari selainnya, dan pintu keburukan jika dibuka, sulit untuk ditutup lagi.

3. Dibolehkannya tamimah dari ayat Al-Quran akan berkesan kepada pelecehan atau penghinaan Al-Quran, sebab pemakainya boleh membawanya ke tempat-tempat najis atau semacamnya, seperti waktu buang hajat, haidh, junub dan sebagainya.

4. Dibolehkannya tamimah dari ayat-ayat Al-Quran akan berakibat kepada pengecilan dan penurunan nilai Al-Quran dari tujuan diturunkannya, sebab Allah menurunkannya agar menjadi petunjuk manusia kepada sesuatu yang lebih lurus dan 
untuk mengeluarkan mereka dari berbagai macam kegelapan kepada cahaya (Islam), bukan untuk dijadikan sebagai tamimah dan kalung wanita dan anak-anak."
(Bi'dah dan Syirik, terbitan Jasmin Enterprise, mukasurat 232,)


Antara dalil tentang pengharaman tangkal, adalah seperti berikut, 


Pada zaman Rasulullah, ada seorang lelaki yang memakai ikatan di tangannya umpama tangkal. Apabila ditanya oleh Rasulullah apakah itu, dia menjawab: 

“Aku menjadikannya sebagai pelindung dari penyakit al-Wahinah.” 

Lalu Rasulullah bersabda: 

“Tiadalah ia menambah bagi kamu kecuali kelemahan (yakni bertambah-tambah sakit). Lemparkan ia daripadamu, kerana sesungguhnya jika kamu mati dan ia berada di atasmu, tidaklah ia akan membantu kamu selama-lamanya (yakni di Hari Akhirat).” 
[Riwayat Ahmad, al-Targhib wa al-Tarhib, no: 5067 dengan sanad hasan]

Lebih dahsyat, tangkal merupakan satu amalan syirik kerana orang yang memakainya atau memakaikannya kepada orang lain sedikit atau banyak akan mengharapkan kekuasaan dari tangkal tersebut. Padahal harapan tersebut hendaklah difokuskan kepada Allah sahaja. Oleh kerana itulah dalam sebuah hadis yang lain Rasulullah menegaskan: 

“Sesiapa yang menggantung tangkal maka sungguh dia telah berbuat syirik.” 
[Riwayat Ahmad, al-Targhib wa al-Tarhib, no: 5065 dengan sanad hasan]

Mungkin ada yang berhujah, tangkal hanyalah jalan tengah antara pemakai dan Allah. Allah jua yang akan membantu dan melindungi. Hujah ini dipatahkan oleh hadis berikut: 

“Sesiapa menggantung tangkal maka Allah tidak akan menyempurnakan baginya (hajatnya).” 
[Riwayat Ahmad, al-Targhib wa al-Tarhib, no: 5064 dengan sanad hasan]

Perhatikan dalam hadis-hadis di atas, Rasulullah menyebut tangkal secara umum tanpa membezakan sama ada ia dijampi dengan ayat al-Qur’an atau selainnya, sama ada ia dijampi oleh seorang ustaz, imam atau sesiapa jua. Asalkan ia adalah tangkal dalam apa jua bentuk, maka ia adalah syirik, diabaikan oleh Allah dan menambah keburukan di sebalik apa yang diharapkan. 

(Sebahagian jawapan daripada kandungan bahagian 'Soal Jawab Agama' bertajuk 
'Tangkal Pada Bayi', oleh Hafiz Firdaus Abdullah.)




Oleh sebab itu, langkah terbaik ialah, ibu bapa lah yang perlu banyakkan membaca Quran di sisi bayi dan berdoa dan meminta perlindungan kepada Allah. Baca kan lah juga ayat Kursi kepada bayi sebelum tidur, bersesuaian dengan salah satu hadis Nabi, maksudnya,


Dari Abu Hurairah r.a., katanya: 

"Saya diserahi oleh Rasulullah s.a.w. untuk menjaga sesuatu dari hasil zakat Ramadhan-yakni zakat fitrah. Kemudian datanglah padaku seorang pendatang, Segeralah ia mulai mengambil makanan itu - sepenuh tangannya lalu diletakkan dalam wadah. Saya lalu menahannya terus berkata: 

"Sungguh-sungguh engkau akan saya hadapkan kepada Rasulullah s.a.w." 

Orang itu berkata: 

"Sesungguhnya saya ini adalah seorang yang sangat membutuhkan dan saya mempunyai tanggungan keluarga banyak serta saya mempunyai hajat yang sangat sekali -maksudnya amat fakirnya." 

Setelah itu iapun saya lepaskan - dengan membawa makanan secukupnya. Pada pagi harinya Rasulullah s.a.w. bersabda: 

"Hai Abu Hurairah, apakah yang dikerjakan oleh tawananmu - yakni orang yang kau pegang - tadi malam?" 

Saya menjawab: 

"Ya Rasulullah, ia mengadukan bahwa ia mempunyai kebutuhan serta keluarga, lalu saya belas-kasihan padanya, maka dari itu saya lepaskan sekehendak jalannya - yakni sesuka hatinya pergi." 

Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: 

"Sebenarnya saja orang itu telah berdusta padamu dan ia akan kembali lagi." 

Jadi saya mengetahui bahwa ia akan kembali karena begitulah sabda Rasulullah s.a.w. Selanjutnya saya terus mengintipnya, tiba-tiba ia kembali lagi dan segera saja mengambil makanan lagi, lalu saya berkata: 

"Sungguh-sungguh saya akan menghadapkan engkau kepada Rasulullah s.a.w." 

Ia berkata: 

"Biarkanlah saja - sekali ini, sebab sesungguhnya saya adalah seorang yang amat membutuhkan dan saya mempunyai banyak keluarga yang menjadi tanggungan saya. Saya tidak akan kembali lagi." 

Sekali lagi saya menaruh belas-kasihan padanya, lalu saya lepaskan sekehendak jalannya. Pagi-pagi men-jelma, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda padaku: 

"Hai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?" 

Saya berkata: 

"la mengadukan lagi bahwa ia amat membutuhkan dan mempunyai banyak tanggungan keluarga, maka dari itu saya belas-kasihan padanya dan saya lepaskanlah sekehendak jalannya."

 Beliau s.a.w. lalu bersabda: 

"Sesungguhnya ia berkata dusta padamu dan ia akan kembali lagi." 

Saya mengintipnya untuk ketiga kalinya. la datang dan terus mengambil makanan lalu saya tangkaplah ia, kemudian saya berkata: 

"Kini sungguh-sungguh saya akan meng-hadapkan engkau kepada Rasulullah s.a.w. dan ini adalah yang terakhir, karena untuk ketiga kalinya engkau datang, sedang engkau memastikan tidak akan datang, tetapi engkau datang lagi." 

Orang itu lalu berkata: 

"Biarkanlah aku - yakni supaya engkau lepaskan saja, sesungguhnya saya akan mengajarkan beberapa kalimat padamu yang dengannya itu Allah akan memberikan kemanfaatan padamu." 

Saya berkata: 

"Apakah kalimat-kalimat itu." 

la menjawab:

 "Jikalau engkau hendak menempati tempat tidurmu, maka bacalah ayat al-Kursi, karena sesungguhnya saja - kalau 
itu engkau baca, engkau akan senantiasa didampingi oleh seorang penjaga dari Allah dan engkau tidak akan didekati oleh syaitan sehingga engkau berpagi-pagi." 

Akhirnya orang itu saya lepaskan lagi sekehendak jalannya. Saya berpagi-pagi, lalu Rasulullah s.a.w. bersabda padaku: "Apakah yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?" 

Saya menjawab: 

"la menyangka bahwa ia telah mengajarkan padaku beberapa kalimat yang dengannya itu Allah akan memberikan kemanfaatan padaku, lalu saya lepaskanlah ia menurut sekehendak jalannya." 

Beliau s.a.w. bertanya: 

"Apakah kalimat-kalimat itu?" 

Saya menjawab: 

"la berkata kepada saya: 

"Jikalau engkau menempati tempat tidurmu, maka bacalah ayat al-Kursi sejak dari permulaannya sehingga engkau habiskan ayat itu sampai selesai, yaitu: Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qayyum." 

la melanjutkan katanya kepada saya: 

"Jikalau itu engkau baca, maka engkau selalu akan didampingi oleh seorang penjaga dari Allah dan syaitan tidak akan mendekat padamu sehingga engkau berpagi-pagi." 

Nabi s.a.w. lalu bersabda: 

"Sesungguhnya ia telah berkata benar padamu - yakni kalau membaca ayat al-Kursi, maka akan terus mendapat penjagaan dari Allah, tetapi orang itu sendiri sebenarnya adalah pendusta besar. Adakah engkau mengetahui, siapakah yang engkau ajak bicara selama tiga malam berturut-turut itu?" 

Saya menjawab: 

"Tidak." 

Beliau s.a.w. lalu bersabda: 

"Itu adalah syaitan."

(Riwayat Bukhari) 
[Imam Nawawi Riyadhus Shalihin, hadis no. 1017, mukasurat 174-176]



Akhir kata, saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan pembaca sekalian agar sentiasa memohon perlindungan kepada Allah dengan cara yang ditunjuk ajar oleh Nabi. Janganlah mencampakkan diri anda ke dalam syirik. Hentikanlah meletakkan Yasin di bantal kerana ia bukanlah dari tunjuk ajar Rasulullah Sollallahu 'Alaihi Wassalam. 

Sesungguhnya hidup kita ini berserah kepada Allah. Apa yang diajar semasa sekolah tentang dosa-dosa besar mensyirikkan Allah, bagai dilupakan oleh masyarakat Islam pada masa kini. Alangkah sedihnya.

Oleh sebab itu, berpegang teguh lah kepada Sunnah Rasulullah. InshaAllah, kita akan selamat.......

Wednesday, June 20, 2012

Berzikir, Berdoa Secara Perlahan

Sumber : al-ahkam.net

Oleh : IBNU IDRIS

Sudah menjadi kebiasaan, imam dan makmum berwirid beramai-ramai dengan suara yang lantang dan kuat. Seolah-olah ia merupakan satu perkara yang wajib ataupun kesempurnaan solat.

Jika tidak dilakukan demikian dianggap sebagai satu perkara aib, terutama bagi imam itu sendiri yang seolah-olah tidak tahu hendak berdoa.

Oleh yang demikian masjid dan surau sudah menjadi seperti majlis nasyid. Ada di antaranya menjadi bising sehingga mengganggu jemaah yang sedang sembahyang, sedang masbuk dan di antaranya baru hendak bersembahyang.

Seolah-olah mereka tidak menghirau orang masbuk yang sedang bersolat atau orang baru datang untuk bersolat.

Kadang-kadang kita melihat imam dan makmum terus juga berwirid dengan suara lantang sehinggalah tamat. Inilah satu-satunya perbuatan yang sangat tercela dan perlu dihentikan.

Nabi Muhammad dan para sahabatnya tidak membaca wirid itu secara beramai-ramai dengan suara keras dan terus-menerus pada setiap lepas solat, tidak pula membaca doa dengan suara yang keras dan diaminkan oleh makmum pada tiap-tiap selepas bersolat.

Nabi dan para sahabat hanya membaca wirid dengan suara kuat dan lantang sewaktu mengajar makmum. Kita sekarang, para makmum sudah menjangkau usia lebih daripada 60 tahun takkanlah, tak tahu membaca doa dan berwirid?

Ada baiknya semuanya ini dibuat sendirian. Allah lebih suka kalau hamba-Nya meminta doa sendiri terus kepada-Nya tanpa menerusi sesiapa pun.

Asy-Syaikh Ali Mahfuz berkata: Di antara bidaah-bidaah yang makruh ialah menamatkan solat dengan cara mengangkat suara beramai-ramai di dalam masjid terus-menerus, sehingga orang awam beriktikad bahawa itu adalah sebahagian daripada kesempurnaan solat dan dia adalah sunah yang mesti dilakukan, padahal ia sunat dilakukan sendiri dan secara senyap-senyap.

Cara seperti ini adalah bidaah yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah dan pada masa sahabat. Cara ini telah dijadikan satu syair yang dilakukan selepas solat jemaah.

Makruh

Kebanyakan para ulama telah menegaskan tentang makruhnya mengada-adakan syair dalam agama. Pada hal Allah sudah berfirman dalam surah al-Araf ayat 55 yang maksudnya:

Berdoalah kepada Tuhan kamu dengan cara merendahkan diri dan dengan suara perlahan, sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampau batas.

Dan doa dengan cara begini (dengan suara lantang) bukanlah daripada perbuatan Rasulullah, bukan perkataannya dan bukan pula perakuannya. Hal ini telah dinukilkan daripada kitab al-Ibada.

Ibunu Hajar al-Haitimi di dalam kitab al-Fatwanya berkata: “Berkata az-Zarkasyi: “Menurut sunah ialah memperlahankan suara pada semua zikir kecuali Talbiah.

Dan al-Auzi berkata asy-Syafie mengagungkan hadis-hadis yang menyatakan dengan suara keras itu ialah terhadap orang-orang yang mengajar.

Disebutkan dalam kitab al-Abad: Dan disunatkan berzikir dan berdoa secara perlahan dan dikeraskan suara dengan bacaan zikir dan doa selepas salam. Imam mengajar orang-orang mukmin dan apabila mereka telah belajar maka hendaklah diperlahankan.

Ada hadis yang menyebutkan tentang mengeraskan suara dengan zikir iaitu hadis riwayat Ibnu Abbas:

“Bahawasanya mengangkat suara dengan zikir sewaktu orang ramai selesai solat fardu adalah dilakukan pada zaman Rasulullah. Berkata Ibnu Abbas lagi: “Aku mengetahuinya setelah mereka selesai solat fardu itu apabila aku mendengarnya.” Hadis riwayat Bokhari.

Hadis ini ditujukan kepada keperluan mengajar zikir yakni nabi dan para sahabat pernah mengeraskan suara membaca zikir buat sementara waktu sahaja, bukan terus-menerus secara tetap.

Mereka lakukan demikian itu untuk maksud mengajar zikir kepada para hadirin.

Demikian ditegaskan oleh asy-Syafie seperti yang dinukilkan oleh imam an-Nawawi di dalam kitab al-Majmuk.

Al-Imam Ibnul Qayyim pula berkata: “Imam berdoa sesudah salam dari solat sambil menghadap kiblat atau menghadap makmum tidak pernah dikerjakan oleh nabi yang bertindak sebagai imam dan tidak ada pula sesuatu riwayat yang menyuruh kita mengerjakan demikian.” Masalah ini telah dinukil dari kitab Zadul-Ma’ad.

Pendek kata, tidak ada ulama muktabar yang membolehkan kita terus menerus membaca zikir dan doa bersama-sama secara lantang selepas tiap-tiap solat jemaah kerana jelas bertentangan dengan sunah.

Yang berlaku di depan mata kepala kita, semua masjid dan surau, imam-imam yang mengimamkan solat jemaah, akan membaca doa dan berzikir kuat-kuat sehingga dua kilometer kita dapat mendengar menerusi pembesar suara.

Mereka ikut siapa sebenarnya?

Wednesday, June 13, 2012

Dosa Isteri Tidak Ditanggung Suami


Disusun Oleh: Khairus Ambia Putra (KAP)
Disemak Oleh : Hafiz Firdaus Abdullah





Sekian lama saya tidak berblogging. Kali ini saya ingin menyentuh tentang topik di atas. Ia lebih ditujukan kepada mereka yang menganggap bahawa apabila seorang lelaki itu menerima nikah selepas akad nikah, maka segala dosa isteri itu ditanggung oleh suami. Ia juga ditujukan kepada mereka yang menganggap, seorang ayah menanggung dosa anak perempuan mereka selagi anak perempuan mereka belum berkahwin.
Dari mana datangnya sumber ini, saya kurang pasti tapi itulah perkara yang mashyur diketahui umum dan disebut-sebut oleh masyarakat kita.  

Membuatkan saya teringat satu post di facebook berkenaan lafaz akad nikah di mana ia menerangkan lafaz tersurat dan makna tersirat di sebalik penerimaan nikah itu. Post itu ingin menunjukkan betapa besarnya tanggungjawab suami sesudah berkahwin sehingga segala dosa isteri ditanggung oleh suami. Tetapi sayangnya, kenyataan itu kurang tepat.

Dalam post yang lain, terdapat juga post yang mengatakan bahawa jika anak perempuan keluar rumah dengan mendedah aurat, maka mendekatkan ayahnya ke neraka. Satu lagi kenyataan yang dibuat tanpa berdasarkan dalil dan hujah daripada Quran dan Sunnah.

Pada hari ini, mari kita kaji dan semak semula secara ilmiah, sejauh mana benarnya kenyataan-kenyataan di atas.

Allah telah berfirman dalam surah al-Najm ayat 38-42 yang bermaksud,

"Sesungguhnya seseorang yang boleh memikul tidak akan memikul dosa perbuatan orang lain, sesungguhnya tidak ada (balasan) bagi seseorang melainkan (balasan) apa yang diusahakannya. Sesungguhnya usahanya itu akan diperlihatkan (kepadanya, pada Hari Kiamat kelak). Kemudian usahanya itu akan dibalas dengan balasan yang amat sempurna; sesungguhnya kepada hukum Tuhanmu-lah kesudahan (segala perkara)."

Secara jelas ia menunjukkan bahawa dosa seseorang itu ditanggung oleh individu masing-masing.

Namun begitu, menjadi tanggungjawab suami dan ayah mendidik keluarga mereka. Ini berdasarkan firman Allah dalam surah al-Tahrim ayat 6 yang bermaksud,

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari Neraka yang bahan-bahan bakarannya: manusia dan batu (berhala). Neraka itu dijaga dan dikawal oleh malaikat-malaikat yang keras kasar (layanannya), mereka tidak menderhaka kepada Allah dalam segala yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan mereka pula tetap melakukan segala yang diperintahkan." 

Selepas itu, jika seorang suami atau ayah telah melakukan yang terbaik bagi mendidik keluarga mereka, tetapi isteri atau anak-anak tidak mendengar kata, maka adilkah seorang ayah atau suami itu diseret ke neraka dan adilkah mereka menanggung dosa isteri dan anak-anak mereka? Tak mungkin begitu kerana Allah itu Maha Adil. Bayangkan, seorang isteri dan anak perempuan yang berakal, melakukan dosa dalam keadaan sedar dan di belakang pengetahuan suami. Tiba-tiba, suami pula yang bertambah dosa. Pelik tu.

Dalam kisah Nabi Lut dan Nabi Nuh, kita dapat lihat kisah tentang isteri  Nabi Lut dan Nabi Nuh? Adakah mereka beriman? Tidak! Ia dijelaskan dalam Quran. Adakah disebabkan mereka kufur, Nabi Lut dan Nabi Nuh yang menanggung dosa mereka? Adakah Nabi Lut dan Nabi Nuh diseret ke neraka? Sudah tentu tidak! Ia menunjukkan bahawa dosa isteri mereka tidak ditanggung oleh mereka.

Saya ingin memetik kata-kata Rasulullah Sollallahu 'Alaihi Wassalam, yang diambil daripada Imam Nawawi Riyadhus Shalihin Jilid 1, Bab 40. Hadis nombor 329, mukasurat 185, Riwayat Muslim, yang bermaksud, 

Dari Abu Hurairah r.a. katanya: 

"Ketika ayat ini turun iaitu yang ertinya: Dan berilah peringatan kepada kaum keluarga-mu yang dekat-dekat - as-Syu'ara' 214, lalu Rasulullah s.a.w. mengundang kaum Quraisy, kemudian merekapun berkumpullah, undangan itu ada yang secara umum dan ada lagi yang khusus, lalu beliau bersabda: 


"Hai Bani Ka'ab bin Luay, selamatkanlah dirimu semua dari neraka. Hai Bani Murrah bin Ka'ab, selamatkanlah dirimu semua dari neraka. Hai Bani Abdu Syams, selamatkanlah dirimu semua dari neraka. Hai Bani Abdu Manaf, selamatkanlah dirimu semua dari neraka. Hai Bani Hasyim, selamatkanlah dirimu semua dari neraka. Hai Bani Abdul Muththalib, selamatkanlah dirimu semua dari neraka. Hai Fathimah - puteri Rasulullah s.a.w., selamatkanlah dirimu dari neraka, karena sesungguhnya saya tidak dapat memiliki sesuatu untukmu semua dari Allah - maksudnya saya tidak dapat menolak siksa yang akan diberikan oleh Allah padamu, jikalau engkau tidak berusaha menyelamatkan diri sendiri dari neraka. Hanya saja engkau semua itu mempunyai hubungan kekeluargaan belaka - tetapi ini jangan diandal-andalkan untuk dapat selamat di akhirat. Saya akan membasahinya dengan airnya.” "





Jika diperhatikan kata-kata Rasulullah kepada Fatimah. Baginda mengingatkan kepada anak perempuannya bahawa Baginda tidak dapat menolak siksa Allah kepadanya, jikalau dia sendiri tak selamatkan dirinya. Bermakna, dosa masing-masing ditanggung oleh diri masing-masing. 

Walaupun bapa atau suami tidak menanggung dosa isteri dan anak, ia bukanlah satu lesen untuk isteri dan anak melakukan dosa sesuka hati, dengan alasan bahawa Allah tidak memberikan hidayah kepada mereka. Ramai yang tidak mahu berubah menjadi baik, dengan alasan, belum mendapat hidayah sedangkan mereka bukanlah jahil dan tak tahu. Mereka tahu mana yang betul, mana yang salah. Cumanya mereka sendiri yang tidak mahu berubah dan mahu menyalahkan takdir, kononnya tak mendapat hidayah. 
Hidayah terbahagi kepada 2 iaitu Hidayah Taufiq dan Hidayah Bayan. 

Hidayah Taufiq milik Allah sepenuhnya, di mana Allah pilih untuk diberi kepada hambanya, seperti yang diberi kepada Nabi dan Rasul, manakala Hidayah Bayan merupakan hidayah yang diberikan kepada manusia untuk manusia membuat pilihan. Hidayah Bayan itu sama ada  diterima atau ditolak, bergantung kepada kehendak manusia itu sendiri. Menjadi tanggungjawab kita untuk menjadi agen Hidayah Bayan, iaitu menyampaikan yang benar kepada manusia dengan sebaik mungkin. Kemudian, terpulanglah kepada mereka untuk menilai dan memilih hidayah yang berada di depan mata. Untuk penjelasan lanjut tentang Hidayah Taufiq dan Bayan, dijemput membaca e-buku tulisan Hafiz Firdaus Abdullah


Secara amnya, kita sebagai hamba Allah, mestilah berusaha untuk memilih hidayah yang Allah berikan, bukan menolaknya dengan alasan tak sampai seru dan sebagainya.

Penulisan ini juga bukan untuk menghalalkan kemungkaran seorang isteri dan anak perempuan tetapi mahu menegaskan bahawa masing-masing bertanggungjawab untuk menjaga diri masing-masing daripada melakukan dosa, dan jangan ingat sebab dia perempuan, yang tanggung dosa dia ialah bapa atau suami. Ramai pendakwah yang menyampaikan fakta yang salah seolah-olah dosa isteri dan anak perempuan ini mutlak ditanggung oleh suami dan bapa.

Jadi, berbalik kepada topik utama, kepada mereka yang menganggap bahawa suami dan ayah yang menanggung dosa isteri dan anak mereka, sila betulkan fahaman anda. Jangan sesuka hati meletakkan hukum di tangan sendiri kerana panduan kita ialah Quran dan Sunnah, bukan akal kita dan bukan juga kata-kata guru/pendakwah/penceramah/ustaz/tok imam yang tidak mengikut Quran dan Sunnah.

Sunday, December 18, 2011

Bernikah Di Masjid Dan Akad Nikah

Berkenaan melakukan akad nikah di masjid, di sini, terdapat satu salah faham. Ramai yang menyangka, atas sebab namanya masjid, maka lebih afdhal bernikah di dalamnya. Ditegaskan, 'lebih afdhal' ni siapa yang ‘endorse'? Hanya Nabi saja yang boleh berikan status lebih afdhal ni, bukan kita. Setelah dikaji oleh para ahlul hadis, ternyata tiada riwayat yang sahih yang menceritakan tentang kelebihan bernikah di masjid. Jadi, bagaimana kita boleh mengatakan ia lebih afdhal?


Menurut Ustaz Fathul Bari Mat Jaya dalam salah satu ceramahnya, beliau menerangkan tentang hadis yang diriwayatkan oleh Imam at-Tarmizi yang berbunyi,


Maksudnya:


“Iklankanlah nikah kalian. Buatlah nikah itu di masjid dan pukullah tuf.”


Kata beliau, hadis ini terdapat dalam Sunan Tarmizi dan juga Al-Baihaqi. Hadis ini dibahaskan dan para ahli ilmu telah menyatakan statusnya. Dalam riwayat at-Tarmizi, terdapat seorang perawi yang bernama Isa Ibn Maimun yang merupakan seorang perawi yang dho’if. Dalam riwayat Al-Baihaqi pula, terdapat perawi yang bernama Khalid Ibn Ilyas yang juga merupakan perawi yang sangat lemah. Kesimpulan yang beliau buat, yang sahihnya, hanya yang awal, iaitu,


“Iklankanlah nikah kalian.”  


Namun begitu, tambahnya, jumhur fuqaha menyatakan keHARUSan bernikah di masjid. Katanya lagi, dalam kebanyakan riwayat yang ada tentang perkahwinan, Nabi dan para Sahabat bernikah di rumah.


Itu antara serba sedikit isi kandungan ceramah beliau tentang akad nikah di masjid ini.






Maka, tiada bezanya sama ada buat di masjid, dewan ataupun rumah. Apa yang penting, cukup rukun dan syarat akad nikah seperti yang dipelajari semasa sekolah dan juga semasa kursus perkahwinan. Malah dalam keadaan sekarang, dengan wujudnya pelbagai adat istiadat yang kurang Islamik dalam upacara akad nikah itu, maka lebih baik kita buat di rumah saja bagi menjaga kesucian masjid. Para hadirin yang datang pula ada yang tak menutup aurat. Hal-hal seperti ini mencemarkan masjid.


Jadi, dalam keadaan ini, demi menjaga kesucian masjid, pilihan yang terbaik adalah untuk buat di rumah. Ia juga akan membuka ruang untuk semua kenalan dan sanak-saudara hadir. Jika dibuat di masjid, perempuan yang haid tidak dapat hadir, dan ini menyusahkan lebih-lebih lagi jika perempuan itu ibu pengantin sendiri ataupun adik-beradik pengantin. Sebagai ahli keluarga rapat, sudah pasti mereka mahu turut serta dalam upacara bersejarah itu. Kenalan perempuan yang bukan Islam juga tidak dapat hadir kerana mereka tidak menutup aurat. Agak seperti memaksa pula, jika kita jemput mereka ke majlis kita, dan menyuruh pula mereka datang dengan memakai tudung. Sedangkan kewajipan menutup aurat hanyalah dalam agama Islam untuk umat Islam.


Namun begitu, keharusan buat di masjid tidak boleh disangkal. Pemilihan masjid sebagai lokasi boleh menjadi pilihan tetapi adab-adab memasuki masjid mestilah dipatuhi. Ada kemungkinan seseorang itu memilih masjid menjadi lokasi atas sebab lebih mudah dari segi kemudahan yang ada di masjid serta lokasinya yang strategik untuk para tetamu yang datang. Mungkin juga kerana rumah agak kecil dan dewan pula sudah penuh serta harga sewa yang mahal. Namun begitu, tiada apa-apa kelebihan daripada segi kesunnahan, untuk bernikah di masjid seperti ganjaran pahala yang lebih atas sebab nama masjid itu.


Jika bernikah di masjid itu lebih baik dan afdhal, sudah pasti ia menjadi amalan Nabi dan para sahabat tetapi banyak riwayat menceritakan bahawa mereka bernikah di rumah.


Selain itu, ada sedikit perihal nikah yang ingin saya ketengahkan......


Pertama : Tidak perlu bersalam semasa akad nikah. Bersalam itu bukan syarat sah untuk akad nikah. Tiada masalah jika wali dan bakal pengantin mengadap masing-masing, si wali melafazkan akad nikah dan bakal pengantin menjawab tanpa bersalam.




Kedua : Mahar atau mas kahwin tak perlu disebutkan tetapi wajib diberi.




Ketiga : Akad bermaksud persetujuan kedua-dua belah pihak. Maka selepas wali menyebut nama si wanita yang akan bernikah dengan lelaki itu, lelaki itu cukup sekadar dengar dan faham, kemudian menjawab,


“Saya terima.”


Tidak perlu untuk mengulang sebijik-sebijik nama wanita itu dan jumlah maharnya. Ini lah yang dipermudahkan di Terengganu dan Kelantan. Semasa saya bernikah dulu, saya hanya menjawab,


“Aku terimalah nikahnya seperti yang disebutkan.”


Walaupun boleh diringkaskan lagi tetapi atas sebab menghormati jurunikah/wali hakim dan juga majlis, saya ikutkan saje.




Keempat : Tidak ada istilah satu nafas di mana pengantin lelaki tidak boleh menarik nafas semasa melafazkan penerimaan akad nikah itu.




Kelima : Pengantin lelaki tidak perlu terus sambung sebaik saja selepas wali melafazkan akad nikah. Biarlah pengantin lelaki faham isi kandungan sejenak dan menjawab selepas itu. Sangatlah bahaya jika lelaki terus menjawab tanpa memahami teks akad itu. Kemungkinan apa yang dilafazkan oleh wali itu salah dan pengantin lelaki pula mengiyakan dan menerima kesalahan itu.


Mungkin ada yang keliru dengan maksud tidak ada putus semasa akad nikah. Maksud tidak terputus itu contohnya begini,


Contoh : Sebaik saja wali melafazkan akad nikah, pengantin lelaki pergi pekena teh tarik dulu, baca buku dan membuat kerja lain, kemudian, tiba-tiba menjawab,


“Aku terima.”


Itulah yang dimaksudkan dengan terputusnya itu. Sekadar bersin, batuk, berfikir sejenak ataupun menarik nafas, tiada masalah.




Keenam : Kemudian, ditambah lagi dengan para saksi yang mengatakan sah ataupun tidak. Siapa pula yang bagi lesen untuk saksi menentukan sah atau tidak. Mereka hanyalah saksi dan tak berhak menentukan sah atau tidak. Jika apa yang dijawab oleh pengantin itu jelas, mengapa hendak dipersoalkan? Terdapat juga saksi yang mahu membuli pengantin dan dengan sengaja menyuruh pengantin mengulangi lafaznya berulangkali. Sesungguhnya itu adalah satu jenayah terhadap hukum-hakam dalam agama Islam. Mereka ini mempermainkan agama untuk keseronokan diri sendiri. Maka jawablah nanti di akhirat kelak.




Ketujuh : Mengapa perlu wali demo dan praktis dulu akad dengan pengantin lelaki, kemudian baru buat betul-betul akad nikah tu? Apa ni? Adakah urusan agama seperti itu? Tidak pernah pula saya perasan semasa membayar zakat fitrah, ada demo-demo pulak masa akad tu. Adakah semasa nak mulakan solat, kita demo dulu takbir “Allahuakbar”, kemudian baru takbir betul-betul? Kan merepek tu.






Urusan perkahwinan dipermudahkan dalam Islam. Adat Melayu yang menyusah-nyusahkannya. Kesudahannya, ramai yang susah dan tak mampu berkahwin. Bukan kerana tak mampu sebenarnya, tetapi adat yang telah menjadikan perkahwinan itu menjadi sukar dan memerlukan kos yang tinggi. Akibatnya, ramai yang lambat berkahwin atau tak berkahwin langsung dan kemudiannya bergelut dengan maksiat.


Saya sangat menyokong mereka yang berkahwin awal. Banyak kelebihannya. Disebabkan halalnya pasangan kita itu, inshaAllah akan mendorong kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang lain.


Kepada yang bakal berkahwin, selamat pengantin baru dan jadilah suami dan isteri yang soleh dan solehah.

Tuesday, December 13, 2011

Solat Sunat Selepas Akad Nikah

Sebelum majlis akad nikah saya dulu, saya pernah diberitahu, seeloknya solat
sunat dahulu selepas akad nikah. Kemudian, baru bertemu dan bersalam dengan isteri. Selepas akad nikah juga, salah seorang pakcik saya bertanya,


"Tak solat sunat dulu ke?”


Saya pun menjawab, "Tak.”


Kemudian saya terus pergi berjumpa isteri saya. Bersalam, dan bergambar bersama. 


Berkenaan solat sunat selepas akad nikah itu, seolah-olah sudah menjadi adat untuk pengantin lelaki solat sunat selepas akad nikah. Jika tak solat sunat selepas nikah, nampak macam pelik. Disebabkan itu merupakan ibadah, maka kita tidak boleh mengikut kebiasaan adat, sebaliknya melihat sama ada solat selepas akad nikah itu mempunyai dalil ataupun tidak. 




Syaikh al-Albani Rahimahullaah berkata: 


“Hal itu telah ada sandarannya dari ulama Salaf (Sahabat dan Tabi’in)."




a. Hadis daripada Abu Sa’id maula (hamba yang telah dimerdekakan) Abu Usaid. 

Dia berkata,

“Aku menikah ketika aku masih seorang budak. Ketika itu aku mengundang beberapa orang Sahabat Nabi, di antaranya ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Dzarr dan Hudzaifah Radhiallaahu ‘anhum. Lalu tibalah waktu solat, Abu Dzarr bergegas untuk mengimami solat. 

Tetapi mereka berkata, "Kamulah (Abu Sa’id) yang berhak!”

Dia (Abu Dzarr) berkata,  "Apakah benar demikian?” 

“Benar!”, jawab mereka. 

Aku pun maju mengimami mereka solat. Ketika itu aku masih seorang budak. Selanjutnya mereka mengajariku, 

"Jika isterimu nanti datang menemuimu, hendaklah kalian berdua solat dua rakaat. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan isterimu itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya terserah kamu berdua...!"

(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (X/159, no. 30230 dan ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (VI/191-192). Lihat Adabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 94-97), cet. Darus Salam, th. 1423 H.)




b. Hadis daripada Abu Waail.

Dia berkata, 

“Seseorang datang kepada ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu ‘anhu, lalu ia berkata, 

"Aku menikah dengan seorang gadis, aku khawatir dia membenciku.”

Abdullah bin Mas’ud berkata, 

"Sesungguhnya cinta berasal dari Allah, sedangkan kebencian berasal dari syaitan, untuk membenci apa-apa yang dihalalkan Allah. Jika isterimu datang kepadamu, maka perintahkanlah untuk melaksanakan solat dua rakaat di belakangmu. Lalu ucapkanlah (berdoalah):

“Ya Allah, berikanlah keberkatan kepadaku dan isteriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rizki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rizki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan.””"

(Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (VI/191, no. 10460, 10461.)



Huraian hadis di atas sebenarnya bermaksud solat sunat berjemaah dengan isteri sebelum ‘bersama' pada malam pertama dan bukanlah solat sunat di depan orang ramai sebaik selepas akad nikah. Do'a dan solat tu sebaiknya dilakukan 'in private’, dalam bilik pengantin kerana ia merupakan adab-adab pengantin pada malam pertama. Itulah cara Islam sebelum menikmati malam pertama suami isteri. Muqaddimahnya solat dan do’a. 


Solat sunat yang biasa dilakukan oleh masyarakat kita, sebaik saja selepas akad nikah, pada asalnya tidak salah, tetapi kita telah meletakkan solat sunat itu bukan di tempatnya. Jika kita menganggap dan meniatkan bahawa itu ‘Solat Sunat Akad Nikah’, kita telahpun mengkhususkan solat sunat itu dan kita telahpun mencipta satu solat sunat yang baru dan tidak ada asalnya daripada Nabi Sollallahu ‘Alaihi Wassalam. Apabila kita menetapkan/menyeru/menyuruh solat sunat itu dilakukan sebaik saja selepas akad nikah dan di depan orang ramai, kita telah pun menetapkan sesuatu yang tidak pernah ditetapkan oleh Nabi Muhammad serta tidak pula menjadi amalan golongan Salaf. Sedangkan kita tahu bahawa generasi mereka lah sebaik-baik generasi untuk kita ikuti. Namun, solat sunat berjemaah bersama-sama isteri sebelum ‘bersama' itu, ada dalil dan Sunnah untuk kita lakukan dan ikuti seperti dua hadis di atas.


Apa yang dipandang baik oleh masyarakat tak semestinya dipandang baik oleh Allah dan RasulNya. Oleh sebab itu, jika pada awalnya kita berkata, sebaik-baiknya solat sunat dulu selepas akad nikah, apakah dalilnya daripada Nabi Sollallahu ‘Alaihi Wassalam, kerana Baginda saja yang ada hak untuk mengatakan kelebihan atau kebaikan solat sunat selepas akad nikah(sekiranya ada). Sedangkan dalam ibadah, mestilah mempunyai dalil bahawa ia datang daripada Nabi Sollallahu ‘Alaihi Wassalam. 


Bukanlah saya tak menyokong untuk kita solat sunat, tetapi biarlah solat sunat yang kita lakukan itu datangnya daripada tunjuk ajar Nabi Sollallahu ‘Alaihi Wassalam dan bukan rekaan sesedap hati dan mengikut hawa nafsu kita.





Friday, November 18, 2011

Ahli Silap Mata (Magicians), Pakai Jin Ke?

Saya mula meminati magik atau silap mata seawal usia kanak-kanak lagi. Semasa itu, saya amat meminati David Copperfield dan sangat kagum dengan kehebatannya melakukan silap mata. Semasa itu, terasa mustahil untuk jadi sepertinya kerana dia dikatakan melakukan silap mata menggunakan jin. Pada fikiran saya yang masih kanak-kanak, tidak mungkin saya mahu membela jin dan menggunakan jin untuk silap mata. Jadi, saya tidak lah serius sangat terhadap magik ini. Minat itu ada dan saya hanya membuat magik yang boleh dikatakan 'bodoh-bodoh je’ ataupun ‘magik sekolah rendah’. 

Saya pernah dihadiahkan buku magik oleh rakan ibu bapa saya. Saya cuba untuk lakukan magik seperti dalam buku itu tetapi tidak semuanya berjaya. Ketika itu, saya merasakan bahawa magik-magik dalam buku tersebut tidak setanding langsung dengan magik David Copperfield. Terdetik di fikiran,

“Yelah, David Copperfield tu bela jin, sah-sah lah magik dia tu jauh lebih hebat kalau nak ‘compare’ dengan yang tak pakai jin.”

Ditambah pula dengan cerita-cerita tentang keanehan David Copperfield semasa berada di Kuala Lumpur, untuk persembahan magiknya. Ada yang bercerita, bahawa David memesan beratus atau beribu telur ayam untuk dihantar ke bilik hotelnya. Kononnya untuk memberi makan jin-jinnya. Pelbagai cerita lain lagi yang mengaitkan beliau dan pembelaan jin. Tambahan pula, masyarakat nusantara suka mengaitkan banyak benda dengan jin, seandainya perkara itu luar biasa. Tidak pernahkah terdetik bahawa kemahiran memainkan peranan penting dalam melakukan silap mata? Itulah gunanya latihan yang berjam-jam dan berhari-hari dan berdisplin oleh ahli silap mata ini.

Mungkin ramai yang menuduh David membela jin kerana magik yang selalu dilakukannya sangat luar biasa dan di luar fikiran kita. Banyak magiknya memang tak masuk akal jika anda yang melihat itu tidak mempunyai ilmu tentang magik atau silap mata. Sebagai orang awam, sudah pasti kita tak tahu bagaimana beliau melakukan magik-magiknya. Tetapi jika kita mempunyai ilmu yang asas tentang magik, kita akan dapat membongkar dan mengetahui magik-magik yang dilakukan oleh David. Namun, seorang ‘magician’ yang melihat dan tahu, takkan membongkarkan rahsia itu kepada orang awam. Sebaliknya ‘magician’ yang melihat persembahan itu, akan menggunakan idea yang sama untuk persembahan mereka sendiri pada waktu lain. Ataupun, mengolah magik itu menjadi persembahan yang mungkin sedikit berbeza tetapi dengan konsep yang sama.

Antara magik yang dilakukan oleh David Copperfield yang dianggap lagenda:-

1) Menghilangkan ‘Statue of Liberty’
2) Berjalan menembusi Tembok Besar Cina
3) Menghilangkan sebuah keretapi
4) Menghilangkan sebuah kapal terbang
5) Terbang
6) Terapung di atas Grand Canyon

Jika dilihat, nampak seperti mustahil tetapi itulah yang dilakukan oleh David. Untuk setiap magik itu, ada rahsianya. Saya jamin dan yakin bahawa dia tidak menggunakan sedikitpun bantuan daripada jin. Mengapa saya berkata begitu?
Hal ini kerana, setiap magiknya ada penerangan di sebalik bagaimana dia melakukannya. Sama ada kita ini mampu untuk berfikir atau tak. Jika kita tak mampu, tak tahu dan tiada ilmu mengenainya, janganlah mudah menuduh dia membela jin. Ini kerana fikiran dan minda kita tidak sampai ke tahap David Copperfield. Itulah sebab beliau menjadi lagenda di kalangan ahli silap mata. Ideanya dan persembahannya menjangkau fikiran manusia biasa. Itu lah kelebihan yang diberikan oleh Allah kepadanya. Satu lagi sebab yang paling kukuh, mengapa saya mengatakan bahawa beliau tidak menggunakan jin. Jika benarlah beliau menggunakan jin, lebih baik digunakan saja jin-jin itu untuk mendapat duit, tanpa perlu beliau bekerja keras. Tidak perlu beliau bertungkus-lumus untuk memerah otak dan melakukan persembahan bagi meraih duit. Lebih baik beliau duduk saja di rumah diam-diam, kemudian suruh saja jin-jinnya bekerja agar beliau tak perlu buat silap mata lagi.

Menurut salah seorang ‘magician’ yang saya kenali, para ‘magician’ yang membuat magik di mana-mana negara, akan membuat ‘research’ dan ‘study’ tentang masyarakat negara itu. Misalnya di Malaysia, mereka tahu bahawa masyarakat Malaysia seringkali percaya perkara-perkara spiritual, maka mereka akan buat magik yang menunjukkan seolah-olah mereka ini ada membela jin. Ia tidak lain dan tidak bukan, hanya sekadar nak main-main agar orang takut. Mungkin juga untuk reputasi. Itu lah juga yang mungkin telah dilakukan oleh David, di mana beliau memesan beratus telur ayam ke biliknya. Mungkin beliau tahu bahawa pekerja hotel itu akan bercerita kepada rakan-rakannya dan sudah pasti akan tersebar berita itu. Kemungkinan itu dilakukan untuk menaikkan lagi namanya.

Saya boleh katakan, semua ‘magician’ tidak menggunakan bantuan jin. Ini termasuklah Criss Angel, David Blaine, Cyril dan mana-mana ‘magician’ yang terkenal. Mereka mungkin akan menunjukkan gaya dan gimik yang kononnya terdapat unsur-unsur jin dan makhluk halus, tetapi hakikatnya, tidak ada sedikit pun. Yang ada, hanyalah penipuan dan kemahiran yang dilakukan. Mereka bersaing untuk menjadi yang terhebat, jadi mereka akan lakukan pelbagai cara untuk menjadi yang terhebat. 

Semasa belajar di Uniten, perkenalan saya dengan seorang ‘magician’ bernama Pito telah membawa saya ke arah menjadi seorang ‘rookie magician’. Saya bermula dengan menjadi juruvideo Pito untuk membuat silap mata di kawasan Uniten. Dengan minat yang mendalam terhadap magik, saya berjaya mempelajari magik yang setanding dengan David Blaine dan David Copperfield, melalui Pito. Pito mengajar saya cara untuk membuat magik dan cara untuk membuat persembahan. Magik yang saya pelajari bukan lagi ‘magik bodoh’ yang saya duk buat semasa di sekolah rendah. Tahap magik saya telahpun naik satu anak tangga. Saya bukan saja berjaya membuat kanak-kanak kagum, tetapi remaja dan juga orang dewasa.

Di situlah bermulanya saat saya mula melakukan ‘close-up magic’ kepada rakan-rakan dan orang-orang yang tak dikenali. Di situ juga saya mula tahu banyak rahsia tentang magik yang selama ini menjadi tanda tanya kepada saya. Kesimpulannya, selepas menceburi bidang ini, banyak rahsia yang saya tahu, dan segala rasa ajaib, kagum, teruja yang saya ada selama ini, hilang. Tetapi untuk mengetahui rahsia itu, saya perlulah berkorban dari segi wang, tenaga, dan masa. ‘Nothing is free’. Selepas itu, saya juga turut belajar melalui DVD, buku dan juga internet untuk memantapkan lagi magik saya.

Kemudian, dengan ilmu asas itu, secara perlahan-lahan saya mulai mempunyai kebolehan untuk membongkar magik-magik yang dilakukan oleh David Copperfield dan ‘magician’ yang lain. Ada juga magik yang saya tak dapat bongkar. Dalam kes begitu, saya akan bertanya kepada guru magik saya ataupun kepada ‘magician’ lain. Selepas membongkar magik itu, saya akan gunakan idea yang sama untuk persembahan saya pula. Walaupun saya akui, ‘skill’ saya tidaklah sehebat David Copperfield atau David Blaine, tetapi ‘skill’ yang kurang hebat ini masih mampu untuk memukau para penonton yang melihat, dan menceriakan para penonton. Yang penting, saya dapat menghiburkan penonton. 

Sekarang saya sudah ‘slow down’ dalam melakukan silap mata. Tetapi saya sempat menempa nama di kalangan rakan sekerja dan rakan sekolah, sebagai seorang ‘magician’. Banyak kelebihannya dalam bidang ini. Kita akan kenal ramai orang dan berkawan dengan orang baru. Ia juga merupakan ‘ice-breaker’ kepada orang yang baru saya kenal, terutama kanak-kanak.

Antara mereka yang pernah saya lakukan silap mata merupakan Tan Sri Halim(pemilik HM Aerospace), Anuar Zain, rakan sekerja seperti juruterbang, pramugara dan pramugari, rakan-rakan abang saya, rakan-rakan Uniten, rakan-rakan sekolah, rakan-rakan semasa di ‘flying school’, rakan-rakan ayah dan mak saya, pakcik makcik saya, saudara-mara saya dan saudara-mara isteri saya, rakan kepada rakan dan juga kadang-kadang saya akan buat ‘magik’ secara ‘random’ kepada sesiapa saja yang baru saya kenal. Silap mata merupakan bidang yang unik. Ia hanyalah sains yang digabung dengan illusi dan komunikasi. Jadi, kepada anda yang masih menyangka bahawa silap mata ini menggunakan makhluk halus, sila ubah sangkaan anda itu kerana silap mata hanyalah illusi dan hiburan, tak lebih daripada itu.